Ada seorang anak yang memiliki temperamen tinggi. Ia sangat emosional dan mudah marah. Suatu hari saat ia marah besar, ayahnya memberikan sebuah palu dan paku, memintanya memaku sebuah batang kayu agar emosinya reda. Dan berhasil! Emosi sang anak reda dan menghilang. Hari berikutnya, emosi anak meluap
lagi. Kali ini ayah menyodorkan dua paku kepada anaknya. Begitulah seterusnya hingga puluhan paku telah menancap di sebuah batang kayu yang terlihat kekar tersebut. Seiring bertambahnya jumlah paku yang ditancapkan, sang anak merasa metode ini tak lagi efektif. Semakin hari emosinya semakin sulit dikendalikan. Datanglah ia kepada ayahnya, "ayah, buat apa kau selalu menyuruhku memaku kayu bila emosiku tak bisa diredakan?" tanyanya. Sang ayahpun menggandeng tangannya menuju batang kayu yang sudah penuh paku. "Coba, cabut semua paku-paku yang sudah kamu tancapkan itu." Anakpun menurut, di dalam benaknya, ayah akan menyuruh menancapkan paku-paku itu kembali. Namun ternyata tidak. Sang ayah mengumpulkan paku kembali dan mengangkat batang kayu. "Coba lihat, bagaimana bentuk batang kayu ini sekarang. Kayu yang tadinya tampak kokoh dan baik-baik saja, penuh luka dan banyak lubang di sekujur tubuhnya. Demikianlah saat kamu meluapkan emosimu kepada orang lain. Hati mereka terluka, sekalipun mereka tampak baik-baik saja," jelas sang ayah.





0 comments:
Post a Comment